Thursday, May 2, 2013

Keindahan Gunung Latimotojong

GUNUNG LATIMOJONG - SULAWESI SELATAN

Latimojong adalah gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yang memiliki tujuh puncak, dengan puncak tertinggi Rante Mario dan ketinggian 3.680 meter di atas permukaan laut. Membentang dari selatan ke utara, Latimojong sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Enrekang, sebelah utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan dengan Kabupaten Sidrap, dan sebelah timur dengan Luwu sampai pinggir pantai Teluk Bone.
Pendakian ke puncak Latimojong itu kami mulai pada 14 Agustus 2007. Dari truk yang melaju di jalan beraspal, terlihat pemandangan rumah panggung berjejer. Hasil pertanian, seperti kopi, dijemur di halaman. Rumah-rumah itu dibatasi oleh kebun salak. Kabupaten Enrekang memang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil salak di Sulawesi Selatan.
Dari kejauhan terlihat bukit-bukit batu terjal, yang berada di antara bukit-bukit hijau. Jalan semakin menanjak. Setelah sekitar satu jam perjalanan, truk meninggalkan jalan beraspal dan mulailah melaju di jalan berbatu, kemudian jalan tanah.
Adrenalin kami mulai terpacu saat melihat jalan licin dan becek, sedangkan di sisi kiri jurang menganga dalam dan sisi kanan tebing tinggi. Jalan bergelombang itu pun ikut mengocok-ngocok kami. Akibatnya, kami terbanting ke sana-kemari meski telah berpegangan erat serta memaksa sopir truk bekerja ekstrakeras.
Terhalang kubangan lumpur yang sulit dilalui, perjalanan terhenti sejenak untuk memperbaiki jalan: menggali gundukan tanah dan mencari batu untuk ditaruh di balik ban mobil yang tertanam lumpur. Bahkan sempat juga truk melewati sungai tanpa jembatan, seperti arena off-road.
Setelah lebih dari tiga jam terguncang-guncang di atas truk, kami pun tiba di Rante Lemo, desa terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Waktu menunjukkan pukul 14.15 Wita. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui jalan setapak.
Sebuah ekskavator tampak terguling ke dasar jurang. Menurut Ully, pemandu jalan dari KPA Lembayung, ekskavator itu tertimpa batu besar dan jatuh ke jurang berkedalaman lebih dari 50 meter. “Kecelakaan ini terjadi pekan lalu, saat para pekerja membuka akses jalan,” kata Ully.
Tak terasa jarak 10 kilometer kami tempuh selama dua jam berjalan kaki dan sampailah kami di Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Enrekang. Inilah dusun terakhir sebelum mendaki Gunung Latimojong. Hari sudah gelap, kami menginap semalam di rumah kepala dusun.
Walau terpencil, penduduk dusun itu dapat menikmati penerangan listrik. Namun, bukan dari PLN. Secara swadaya masyarakat memanfaatkan aliran sungai dan memasang kincir air yang menghasilkan daya, kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga.
“Jadi di sini penduduk tidak perlu membayar listrik karena ini diusahakan oleh warga sendiri. Lucunya, kadang nyala lampu yang sangat terang tiba-tiba redup, bergantung pada deras arus yang memutar kincir,” ujar Tahir, Kepala Dusun Karangan.
Esok paginya, pendakian dimulai. Dengan memanggul ransel masing-masing, kami berjalan melalui jalan setapak meninggalkan Dusun Karangan menuju puncak Latimojong.
Belum jauh dari dusun, terhampar pemandangan pohon-pohon kopi di sisi kiri dan kanan jalan setapak, dengan buah merah mencolok. Tampak pula karung yang berisi biji-biji kopi yang baru dipanen.
Medan makin menanjak. Meski belum berjalan terlalu jauh, napas sudah tidak beraturan. Sebelum tiba di Buntu Kacillin, sebutan untuk Pos I, perjalanan harus menyeberangi dua sungai dengan meniti beberapa batang pohon yang melintang di atas sungai. Kemudian kami melalui beberapa lahan yang baru dibuka oleh warga untuk perkebunan kopi.
Dari sana, jauh di bawah, tampak indahnya pemandangan yang hijau, dan dari kejauhan tampak desa-desa permukiman warga setempat.
Selanjutnya adalah wilayah hutan lebat. Kondisi jalan pun sudah mulai tidak bersahabat. Bahkan terkadang kami harus meniti pinggiran jurang dengan berpegangan pada akar-akar pohon. Rasa takut kadang tiba-tiba datang jika melihat ke bawah jurang. Saya harus memakai kaus tangan agar tangan tidak terluka saat berpegangan pada akar-akar pohon.
Di hutan ini terdapat banyak pohon rotan. Para pemandu menyarankan untuk membuat gelang dari rotan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, mengenakan gelang rotan bisa terlindung dari gangguan “para penunggu”. Gelang rotan ini juga merupakan simbol bahwa kita bertamu secara baik dan diterima warga setempat. Konon, gelang rotan ini adalah simbol leluhur warga setempat, yakni Nenek Janggok Riri, bersama istrinya, Nenek Menga.
Selain memakai gelang rotan, tanda-tanda alam juga harus diperhatikan. Konon, jika kita sedang dalam perjalanan mendaki Gunung Latimojong dan mendengar kicauan burung, itu pertanda bagus dan kita bisa melanjutkan perjalanan. Sebaliknya, jika kita mendengar suara sengatan lebah, sebaiknya kita kembali dan tidak melanjutkan perjalanan karena itu merupakan pertanda buruk.
Menuju Sarungpa’pa–sebutan untuk Pos II–jalan tidak selalu mendaki. Semakin dekat menuju Pos II, jalan menurun dan licin karena lembap. Sarungpa’pa berada di pinggir sungai. Tidak begitu luas, hanya berupa bongkahan batu besar yang agak lapang dan gua batu terbuka. Namun, tempat ini menjadi salah satu pilihan bagi pendaki untuk beristirahat, bahkan menginap karena dekat dengan sumber air.
Medan berikutnya menuju To’nase (Pos III) sangat sulit walau jarak tempuhnya pendek. Tebing dengan rata-rata kemiringan 70-85 derajat, belum lagi kondisi tanah yang licin, mengharuskan kami untuk memanjatnya. Namun, di sinilah etape perjalanan paling seru meski sangat berbahaya.
“Awas, batu. Ada batu,” terdengar teriakan dari atas, mengingatkan kami bahwa ada batu jatuh. Kami yang berada di bawah pun ekstrahati-hati agar tidak terkena batu.
Melintasi etape itu, beberapa orang terpaksa ditarik dengan menggunakan tali. “Meski berbahaya, saya sangat suka karena menantang,” kata Mang Kus dari Karpala Kalfa.
Perjalanan menuju Pe’uwean (Pos IV)–setelah beristirahat sejenak di To’nase–lebih bersahabat meski mendaki. Akar-akar pohon sebagai tumpuan dan pegangan tersusun lebih rapi. Begitu pula dengan batang pohon yang menjadi tumpuan alternatif. Kondisi hutan pun makin lebat dan lembap. Kabut sempat turun beberapa saat.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.20 Wita ketika kami tiba di Pe’uwean, yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Suasana makin mencekam saat kabut turun yang makin membatasi jarak pandang. Apalagi ketika menyusuri hutan semakin dalam, selain kabut dan hutan lebat, jarak pandang terhalang gelapnya malam. Kami pun menggunakan senter kecil sebagai alat penerangan untuk menuntun langkah.
Saya sempat drop ketika rasa lelah, lapar, dan dingin menusuk. Dengan bantuan sekaleng susu dan istirahat sejenak, akhirnya saya dapat melanjutkan pendakian meski dengan ritme lambat dan lebih sering berhenti.
Di antara lebatnya pohon, saya sempat menikmati cahaya bintang-bintang yang bertebaran di langit. “Sangat indah dan mata rasanya tak ingin berpaling. Pemandangan seperti ini jarang kita temui jika kita bermukim di kota besar,” kata saya kepada Ully.
Akhirnya sampailah kami di Soloh Tama (Pos V) sekitar pukul 20.30 Wita, tempat kami menginap malam itu di tengah sergapan rasa dingin, meski saya telah memanaskan tubuh di pinggir kobaran api. Di sekitar tempat itu ada sebuah sungai, yang untuk mencapainya harus melewati medan yang terjal dan licin.
Perjalanan menuju puncak Rante Mario dilanjutkan esok paginya. Pos demi pos selanjutnya pun kami lalui. Untuk sampai ke Paperangian (Pos VI) pun terasa lebih singkat walau medan lumayan licin karena banyak batu besar.
Kondisi hutan di ketinggian sekitar 3.000 meter dpl terasa lembap. Batang-batang pohon di sekeliling kami ditutupi lumut. Sementara itu, di Buntu Lebu (Pos VII) terdapat bukit-bukit batu dan pohon-pohon kerdil, tempat kami beristirahat setelah mendirikan tenda di tepi sungai kecil.
Perjuangan mencapai puncak Rante Mario akhirnya tercapai setelah mendaki tebing, melalui bukit-bukit batu dan hutan berpohon kerdil. Kami pun langsung menuju titik triangulasi di ketinggian 3.680 meter dpl.
Segala kelelahan terbayar seketika saat melihat pemandangan yang indah, kala matahari beranjak ke arah barat, dengan berkas warna kuning keemasan menerpa awan putih.


Wednesday, May 1, 2013

Gunung lompo battang

ASAL MULA GUNUNG LOMPO BATTANG

Erang, bocah lelaki berumur 7 tahun, seperti dipaku pada tempatnya berdiri. Rambut halus ditengkuknya meremang. Keringatnya mengucur deras. Tepat didepan matanya. Peristiwa mengerikan terjadi kurang dari selompatan kaki orang dewasa dari tempatnya berdiri. Sosok raksasa setinggi seratus langkah mendengus lencang. Nafas yang keluar dari hidungnya menggoyangkan semak belukar dimana Erang bersembunyi. Mulut raksasa itu mengecap-ngecap. Ia baru saja menelan ibu bapak Erang sekaligus.
Purnama hari keempat belas. Dibelahan dunia yang lain sedang bersuka cita memandang keindahan bulan. Tapi disini, disebuah desa tempat keluarga Erang bermukim, purnama sepuluh tahun sekali adalah pertanda malapetaka. Raksasa kejam yang berdiam dihutan menjadikannya jadwal berburu manusia di desa Erang.
Erang tak kuasa menahan tangis. Kesedihannya tak tertanggungkan lagi. Ibu bapaknya, belahan jiwanya, telah pergi meninggalkan dirinya. Erang memandang pilu kearah rumahnya. Kondisinya memprihatinkan. Rumah itu telah rubuh diporak-porandakan kaki raksasa. Nasib yang sama juga dialami oleh rumah-rumah penduduk seisi desa.
Dibawah cahaya bulan Erang berdiri tegak. Diusapnya sisa air mata yang membasahi wajah tirusnya. Disaksikan oleh bintang-bintang berserakan, Erang mengucapkan sumpah. Kelak, jika Tuhan berkenan menganugerahinya umur panjang, maka ia akan mennggunakan umur tersebut hanya untuk membalas dendam pada raksasa jahat yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya.
Ia bersiap untuk membalas dendam. Pertama-tama, ia akan mencari dulu bagaimana caranya.
Sepuluh Tahun kemudian.
Erang kanak-kanak kini telah dewasa. Hari demi hari dilaluinya dengan dendam membara. Selama sepuluh tahun ia belajar menghidupi dirinya sendiri dengan memburuh didesa-desa tetangga. Kegiatan rutinnya yang lain adalah mengasah senjata badik peninggalan orang tuanya dengan jeruk nipis. Sejenis senjata penikam tradisional suku Bugis Makassar. Bentuknya berupa bilah batu meteor yang telah ditempa menjadi besi pipih dengan ujung yang runcing. Hulu dan warangkanya terbuat dari kayu hitam. Dengan senjata itulah kelak, Erang berniat membalaskan dendamnya pada raksasa.
Bila sore menjelang, Erang ikut bergabung dengan kawan-kawan seumurannya yang rutin berlatih pencak silat di lapangan desa. Latihan ini sengaja digelar para tetua desa agar para pemuda kelak bisa melawan ketika raksasa datang menyerbu desa mereka. Tapi Erang hanya menonton. Hatinya tak pernah tergerak berlatih pencak. Keengganannya itu menjadikan Erang kerap jadi sasaran ejekan teman-temannya. Bangun tubuh kawan-kawan seumurannya semakin hari semakin berisi. Tumbuh besar dan tegap. Sungguh berkebalikan dengan tubuh Erang. Erang tampak seperti bocah kuntet diumurnya yang telah menginjak 17 tahun. Kurus kerempeng. Tulang-tulangnya bertonjolan seolah berebut ingin melarikan diri dari tubuh kerdilnya.
Erang selalu  membalas setiap ejekan ‘kuntet’ dari kawan-kawannya dengan senyuman. Ia menekan setiap rasa kesal yang manusiawi muncul dihatinya. Demi membalaskan dendam kedua orangtuanya, ia tabah berjalan teguh diatas rencana yang disusunnya. Tak ada yang tahu kalau tubuh kuntetnya itu sebenarnya disengaja oleh Erang. Bertahun-tahun ia disiplin berpuasa. Berpantang makan dan menahan lapar, agar tubuhnya tidak tumbuh berkembang.
Diam-diam pula, pada setiap malam purnama hari keempat belas, Erang menyusup kesetiap desa dimana raksasa musuhnya sedang berburu manusia. Dibantu oleh tubuh kuntetnya ia bersembunyi sambil memperhatikan secara seksama gerak gerik si raksasa. Sambil menunggu waktu yang tepat dikemudian hari, Erang memanfaatkannya untuk mempelajari kelemahan musuhnya. Nenek moyangnya pernah mengajari Erang, ‘ Kenali kelemahan musuhmu untuk mengenali kekuatanmu ‘.
Tibalah kemudian malam yang ditunggu-tunggu Erang. Purnama hari keempat belas. Sepuluh tahun sejak kedatangan terakhir raksasa ke desa. Cahanya bulan menyiram tanah. Erang telah mempersiapkan dirinya sejak petang. Belajar dari kebiasaan raksasa sebelum-sebelumnya, maka malam ini adalah giliran desanya disatroni oleh raksasa jahat itu. Pemuda-pemuda desa yang telah dilatih silat sibuk menyiapkan diri. Mereka menggengam berbagai jenis senjata ditangan masaing-masing. Lalu….
Bum ! Bum ! Bum !
Suara berdentum menghantam tanah tempat berpijak. Bumi bergetar laksana gempa. Raksasa mengumunkan kedatangannya dengan geraman yang menakutkan. Dengusan nafasnya menggoyang pepohonan. Rumah-rumah yang dilalui porak-poranda dalam sekali injakan.
Para pemuda desa bersiap. Senjata terhunus. Sementara Erang berdiri menjauh dari mereka. dalam jarak 10 tombak. Mengamati raksasa dan barisan para pemuda yang sudah berdiri berhadap-hadapan.
“ Arrrrrrrrrrrrrrrrrrggghhhhh !!!!! “
Raksasa mengaumkan teriakan memekakkan. Tampaknya ia marah mendapati dirinya mendapat perlawanan dari penduduk desa. Kemudian..
Set…!! set…!!! swiiiiing !!!
Hanya dengan sekali kibas, kedua tangan raksasa itu telah merontokkan para pemuda desa. Tubuh-tubuh melayang bergelimpangan. Erang menyaksikan kenyataan itu dengan hati miris. Ia sudah menduga akan terjadi hal seperti itu. Latihan silat bertahun-tahun hanya membuahkan kesia-siaan belaka. Segesit apapun, sekuat apapun para pemuda desa itu, sama sekali bukan tandingan raksasa.
Tubuh para pemuda desa yang tegap berisi malah semakin membangkitkan selera makan raksasa. Satu persatu mereka ditangkap lalu dikunyah oleh taring raksasa. Teriakan-teriakan manusia diujung ajal bersahut-sahutan. Dan berhenti ketika tak ada lagi manusia hidup yang tersisa.
Raksasa itu mengaum sekali lagi. Wajahnya tampak sangat puas. Dengan langkah malas karena kekenyangan, raksasa memutar badannya hendak berlalu dari desa itu.
Pada saat itu, Erang segera melompat menghadang raksasa.
“ Hai raksasa jelek ! berhenti, karena aku akan membunuhmu ! ‘ teriak Erang.
Raksasa menghentikan langkahnya. Matanya memicing mencoba meneliti dari mana asal suara itu. Rupanya suara itu dari seorang manusia kuntet yang kurus kerempeng tengah bertolak pinggang diujung jempol kakinya.
“ Hahahahahaha…hahahahahahaha…, apa aku tidak salah dengar, manusia kecil !” sahut raksasa. Tubuhnya bergoyang-goyang. “ Minggirlah. Aku sudah kenyang. Tubuh kerempengmu itu hanya akan merusak selera makan ku saja “
Erang tidak bergeming. Sambil tetap bertolak pinggang ia terus berusaha membangkitkan kemarahan raksasa.
“ Hai raksasa jelek. Kenapa kau tak mengakui saja kalau kamu takut kepadaku !? “
“ Kau rupanya memilih ingin menyusul kawan-kawanmu manusia kuntet ! “ raksasa itu menggeram. Erang berhasil memicu kemarahannya. Raksasa bertambah marah karena melihat Erang tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
“ Dasar raksasa jelek ! aku tidak takut padamu. Aku bahkan berani bertaruh denganmu. Rahangmu itu sangat kecil dimataku. Mulutmu takkan sanggup menelanku dalam sekali telan “
“ Arrrrrrgggghhh….!!!!!!!! “
Raksasa menggeram. Kemarahannya tak terbendung lagi. Belum pernah seumur hidupnya ia dihina oleh seorang manusia. Terlebih manusia kuntet nan kerempeng seperti Erang. Manusia kuntet itu bahkan berani menghina dengan mengatakan mulutnya tak sanggup menelan tubuh Erang.
Secepat kilat tangan raksasa itu menyambar Erang. Anehnya, Erang justru tidak berusaha untuk menghindar. Dibiarkannya tangan raksasa itu mencengkeramnya. Selanjutnya..
Hap !
Tubuh Erang menggelinding masuk kemulut raksasa. Karena tubuhnya yang kuntet dan jarak geraham kiri dan kanan raksasa yang sangat lebar, Erang berhasil menghindar dari gigi-gigi raksasa yang berusaha mengunyahnya. Dengan cepat Erang menggelindingkan tubuhnya melalui tenggorokan masuk kedalam perut raksasa.
Merasa mangsanya telah tewas, raksasa itu kembali melanjutkan langkahnya. Namun, sepuluh langkah dari situ, tiba-tiba, tubuh raksasa itu roboh bergelimpang menimpa bumi.
Bummmmmm !
Tanah bergoyang keras. Meninggalkan lubang dibawah punggung raksasa. Tubuh raksasa itu kemudian berguling-guling. Mulutnya melolong-lolong….
“ Auuuuugggghhhh… aarrrrrgggh….. huuuuuuurrrgggghhh “ teriaknya meracau menahan sakit.
Sebuah sobekan dari dalam perutnya mengakibatkan tubuhnya berhenti berguling. Raksasa jahat itu telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Terlihat Erang menjulurkan kepalanya dari dalam perut raksasa yang terbelah. Ia kemudian keluar dan melompat turun ketanah dengan tenang. Ditangannya masih tergengam sebilah badik berlumuran darah.
Karena kuasa dewata, ditempat raksasa itu terbaring, tiba-tiba berubah wujud menjadi gunung. Bentuknya seperti tubuh raksasa, lengkap dengan perut besarnya yang menonjol. Penduduk sekitar gunungpun kemudian menamainya dengan sebutan Gunung Lompo Battang, yang artinya perut besar. Lompo = Besar, Battang = Perut (Makassar, Pen).

Gunung Bulusaraung

Gunung Bulusaraung - merupakan salah satu Gunung yang terdapat di Sulawesi Selatan lokasinya berada diantara Kota Kabupaten Pangkep dan Kabupaten. Maros , tepatnya di Kecamatan Balocci Desa Tompobulu dengan ketinggian gunung mencapai 1.260 Mpdl. 
Gunung Bulusaraung ini juga termaksud salah satu Gunung di Sulawesi Selatan yang banyak dikunjungi baik itu oleh wisatawan luar Sulawesi Selatan maupun para Pendaki Gunung. Untuk menuju ke puncak gunung hanya perlu menempuh jarak sekitar 3-4 jam dari  pemberhentian terakhir atau biasanya disebut POS 0 didesa Tompobulu.
Gunung yang memiliki ketinggian 1.200 Mdpl ini walapun tidak termaksud Salah satu Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan Tetapi memiliki Jalur yang cukup menantang serta sedikit extrem apalagi saat musim hujan pastinya agak kesulitan untuk menempuh jalur sesuai waktu yang ditentukan apalgi buat Pendaki atau wisatawan yang mendaki ke Gunung Bulusaraung untuk pertama kalinya. Tetapi walapun jalurnya sedikit sulit tetapi ada bebera Pos / Tempat peristirahatan sejenak yang memiliki Pemandangan yang sangat Indah dan sayang untuk dilewatkan, sehingga dapat mengobati rasa lelah dalam perjalanan. selain itu di Gunung Bulusaraung juga terdapat beberapa species  Flora dan Fauna diantaranya Tumbuhan Rotan, Kemiri, Kelapa Serta Beberapa Tumbuhan warga yang sengaja ditanam di gunung tersebut, Kera hitam (maccaca maura)  Kupu – kupu (triodes holiptron),  Musang (macrogolidia masenbraiki). dll.
Pada pendakian Gunung Bulusaraung pendaki melewati 9 Pos peristrahat sementara, jarak dari Pos ke Pos hanya membutuhkan waktu 15-30 Menit.

Biasanya Para Pendaki jika ingin Menginap di Gunung ini biasa membuat BaseCamb di Pos 9 karena jarak dari Pos 9 / Pos terakhir sebelum Puncak hanya membutuhkan waktu 20 Menit untuk sampe kePuncak Gunung Bulusaraung dengan melalui Jalur sisi Gunung yang cukup Terjal dan Bebatuan Lepas,Puncak Gunung ditandai dengan  adanya Pemancar Radio Milik BTNBB dan tentunya Tugu atau biasanya disebut TREANGGULASI oleh Para Pendaki Gunung.

Info Pendaki

Tata Mandong Pahlawan Dari Tanah Bawakaraeng

Paradise Antang -

Tata Mandong bukanlah sosok pahlawan yang dikenal banyak orang. Di sela mulutnya terselip lintingan tembakau. Asap terhembus, pelan, nikmat, ditelan udara. Rambutnya memutih termakan usia, namun senyumnya selalu tersungging tatkala memberikan petuah bijak.

Tak ada yang tahu kapan ia dilahirkan, tak pernah pula dia memberi jawaban saat ditanya. Umurnya, ditaksir dari kondisi fisik, sekitar 60 tahun. Kami memanggilnya Tata Mandong, pahlawan dari Tanah Bawakaraeng.

Persis di kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, lembah indah terbentang. Hijau, bagai permadani yang terhampar. Lembah itu bernama Lembah Ramma. Butuh waktu minimal 4 jam untuk mencapai lembah ini dari desa terakhir, melewati perbukitan dan beberapa sungai.

Menuju Lembah Ramma hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki dengan jalur yang sempit dan banyaknya pohon tumbang. Ya, di tengah sini, di lembah indah ini, Tata Mandong tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana. Rumah itu berukuran 3x4 meter persegi. Tak ada listrik, apalagi televisi.

Rumah panggung yang terbuat dari beberapa potongan kayu dengan lantai setinggi 1 meter tersebut hanya terdiri dari dua ruangan. Dapur yang menyatu dengan ruang tamu, dan sebuah kamar tidur. Dasar rumahya digunakan sebagai tempat berteduh untuk ketiga anjingnya. Teman setia yang menemani dirinya ketika sepi dan menjaga dirinya dari babi hutan.

Hanya sebuah radio usang satu-satunya barang 'termewah' yang ia punya. Itu pun pemberian dari salah seorang mahasiswa yang berkunjung ke rumahnya. Seorang pria seusianya seharusnya istirahat dengan tenang di rumah sambil menikmati koran atau bercanda dengan cucu tercinta. Tata Mandong hanya bermukim sendirian di tengah hutan, tanpa fasilitas mewah satu pun. Menurut saya, hanya manusia luar biasa yang mampu melaluinya.

Sudah sekitar 30 tahun Tata Mandong mengabdikan dirinya demi menjaga keseimbangan alam Gunung Bawakaraeng. Setiap hari ia menanam bibit pohon yang sebelumnya telah disemai di halaman rumahnya. Bibit-bibit tersebut diharapkan dapat menjadi penahan banjir kelak nantinya.

Ia cerita tentang kasus longsor pada tanggal 26 Maret 2004 di sekitar Gunung Bawakaraeng yang menyebabkan 32 warga kampong Lengkese, Desa Manihoi, Kecamatan Tinggi Moncong, tewas. Puluhan rumah, ternak dan sekolah pun tertimbun endapan longsor.

Saat itu warga baru saja menyelesaikan ibadah salat Jum̢۪at. Ada yang kembali beraktivitas bertani di sawah, atau membawa ternak ke padang rumput. Ada pula yang langsung istirahat di rumah. Tak ada yang menyangka, sebab tak ada tanda-tanda bahwa akan adanya longsor. Semua berlangsung begitu cepat. Warga tak mampu menyiapkan diri.

Tata Mandong tak mampu berbuat banyak saat itu. Ia terlambat memberitahu warga tentang bencana ini. Ia hanya manusia biasa yang memiliki tenaga rata-rata dan harus berpacu melawan endapan longsor sepanjang 30 kilometer dengan ketebalan mencapai 400-500 meter tersebut.

Sebelumnya, ia mendengar suara gemuruh di atas lereng dan menduga itu adalah salah satu lereng yang akan longsor. Dugaan beliau tepat, tak lama kemudian terjadilah bencana longsor tersebut. Tata Mandong sangat sedih dengan bencana ini.

Dedikasi Tata Mandong sungguh luar biasa dan benar-benar total. Setiap pagi ia akan menggapai puncak Tallung untuk mengamati kondisi gunung sambil mengawasi aktivitas ternak-ternak warga yang beliau gembalakan. Sebab, ia bisa mengamati semuanya dari puncak Tallung. Ia tak punya teropong untuk melihat detail-detail kondisinya. Hanya dengan mata telanjang dan pengalamanlah ia menafsirkan semuanya.

Tata Mandong adalah orang yang akan dimintai nasehat oleh warga tentang kondisi Gunung Bawakaraeng untuk melanjutkan aktivitas bertani dan beternak. Tak jarang pula ia menjadi tim penyelamat ketika ada pendaki yang hilang dan tersesat.

Yang paling membuat saya gusar, Tata Mandong hanya dibayar Rp 150.000 per bulan oleh Dinas Kehutanan untuk membayar bentuk dedikasinya tersebut. Sungguh ironis memang. Untuk kehidupan sehari-harinya beliau mengandalkan ikan empang yang dipelihara. Atau sedikit sumbangan dari rekan-rekan pendaki yang rata-rata setiap akhir pekan mengunjungi rumahnya. Dan kalau terpaksa, Tata Mandong akan berjalan kaki menuju pasar Malino.

Tata Mandong hanya pria biasa. Pria normal yang membutuhkan wanita sebagai istri yang menopang dirinya dan anak-anak yang menceriakan hari-harinya. Tahun 1986, Maniah, istri yang dicintainya, meninggalkan dirinya karena tak tahan dengan kondisi miskin yang menimpa keluarganya. Gaji sebagai penanam bibit sebesar Rp 150.000 menurutnya tak mampu menopang perekonomian keluarga.

Maniah membawa serta anak semata wayang mereka, Fatimah. Hal inilah yang masih menjadi ganjalan di hati Tata Mandong. Beliau menyimpan kerinduan yang mendalam kepada keluarga yang dia cintai. Beliau ingin melihat wajah cantik putrinya yang kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sekali lagi, sebuah keadaan yang sangat luar biasa dan hanya mampu dilalui oleh manusia yang luar biasa pula.

Tata Mandong, meski tak setenar Mbah Maridjan, adalah pahlawan lingkungan yang patut diapresiasi. Bertemu dengannya di kaki Gunung Bawakaraeng, Anda akan mengerti arti kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Tubuh itu semakin membungkuk, keriput, namun tetap tegar menghadapi hidup. Tata Mandong, begitu kakek ini disebut, sudah 30 tahun mengabdikan dirinya demi menjaga keseimbangan alam Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan.